Medan — Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW PERSIS) Sumatera Utara bersama Pascasarjana UIN Sumatera Utara baru saja sukses menghelat sebuah konferensi internasional (International Conference) bertaraf global. Berlangsung di Hotel Madani Medan, Rabu (30/9/2026), ajang bergengsi ini mengangkat tema besar terkait rekonstruksi respons syariah menghadapi tantangan global modern.
Kegiatan akbar ini ternyata bukan sekadar agenda seremonial semata. Konferensi dirancang sebagai rangkaian pemanasan atau Pra Musyawarah Kerja Nasional (Musykernas) V PW PERSIS yang dijadwalkan bakal dihelat meriah di Medan pada akhir November 2026 mendatang.
Tak tanggung-tanggung, forum ini menghadirkan empat tokoh besar, mulai dari guru besar hingga pakar terkemuka, untuk membedah arah baru gerakan dakwah Islam.
Poin Penting dari Para Pakar
Jalannya konferensi berlangsung dinamis tatkala para narasumber membedah berbagai isu strategis:
-
Fatwa Tak Boleh Statis: Ketua PW PERSIS Sumut, KH. Muhammad Nuh, M.SP, yang tampil sebagai keynote speaker menegaskan bahwa fatwa di era digital dan krisis peradaban adalah sebuah keniscayaan. Mengutip pandangan Yusuf Al-Qardhawi, ia mengingatkan pentingnya pendekatan dakwah yang membumi tanpa harus menutup pintu ijtihad, kendati prinsip pokok agama (Tsawabit) tetap wajib dijaga kokoh.
-
Hakikat Mashlahat: Pakar Ushul Fiqh Universiti Malaya, Prof. Madya Muhammad Ikhlas Rosele, PhD, mengupas tuntas dinamika ijtihad melalui kisah klasik sahabat Nabi terkait shalat di Bani Quraizhah. Menurutnya, perbedaan dalam membaca kemaslahatan umat merupakan sebuah rahmat.
-
Keadilan Gender dalam Hukum Keluarga: Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga UIN SU, Prof. Dr. Sukiati, MA, menyoroti perbandingan hukum perceraian antara Indonesia dan Maroko merujuk pada QS. Al-Baqarah: 220. Ia menilai ijtihad harus terus digaungkan demi melahirkan hukum keluarga yang lebih melindungi harkat perempuan.
-
Nalar Ushul Fiqh Transitif: Sebagai penutup yang filosofis, Prof. Dr. Ansari Yamamah, MA, memperkenalkan metodologi produksi pengetahuan baru melalui perpaduan nalar tekstual (Qauli), empiris/sains (Kauni), dan filosofis (Falsafi).
Ketua Panitia, Dr. Iwan Nasution, mengapresiasi suksesnya acara ini yang dinilai berhasil menjadi terobosan apik dalam memadukan visi ulama dan akademisi. Rangkaian acara ini sendiri dilaporkan langsung oleh pewarta Joko Imawan dan Abdul Aziz.
Sinergi antara perguruan tinggi keagamaan negeri seperti UIN SU dan ormas Islam historis seperti PERSIS memberikan angin segar bagi perkembangan riset keagamaan di Sumatra Utara. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkecil jurang antara rumusan hukum Islam di bangku kuliah dengan problematika riil yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Menyongsong perhelatan Musykernas V di penghujung tahun ini, butir-butir pikiran kritis yang lahir dari ruang konferensi tersebut diharapkan mampu menjelma menjadi panduan taktis. Para dai dan pengambil kebijakan pun didorong untuk terus mengadopsi cara pandang yang adaptif dan solutif demi menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.
Pewarta: Joko Imawan / Abdul Aziz







